Mengenal Plastik Ramah Lingkungan, Hancur Setelah 2 Tahun

Pernah membaca tulisan dalam sebuah kemasan yang kamu peroleh, bertuliskan “kemasan ini akan hancur dengan sendirinya” atau “… kemasan bisa terurai dalam 2 tahun”?

Di tengah hangatnya isu permasalahan plastik akhir-akhir ini, bagi beberapa orang dua pernyataan di atas rasanya menyejukkan sekali. Wow.. Amazing! Senang deh akhirnya ada plastik yang begitu cepat terurai.

Bagi beberapa orang lain malah mengernyit, lho kok, bukannya plastik baru terurai setelah beratus-ratus tahun? Waah, jebakan Batman ini! Bagaimana mungkin kemasan yang terurai hingga beratus-ratus tahun, bisa terurai dalam waktu sangat singkat?

Tunggu dulu Kulinas, sebelum kita tergoda berhenti melakukan aksi diet plastik, daur ulang plastik, dan bahkan berhenti membawa tas belanja dari rumah, ada baiknya kita mengenali maksud tulisan dalam kemasan plastik.

Plastik Ramah Lingkungan

Menghadapi permasalahan ini, berbagai daya dan upaya dilakukan oleh semua pihak. Salah satunya, membuat plastik ramah lingkungan dengan masa urai lebih cepat hingga 2 tahun yaitu, oxo-biodegradable.

Plastik oxo-biodegradable sering menjadi perbincangan mengingat penurunan masa urainya sangat drastis. Kepada plastik konvensional ditambahkan pro-degradant yang berfungsi untuk mempercepat fragmentasi plastik.

Adanya sinar matahari, suhu, dan tekanan yang menerpa kemasan oxo-biodegradable, menyebabkan terjadinya proses fragmentasi plastik. Proses ini dikatakan akan lebih cepat dengan bantuan pro-degradant atau katalis.

Perlahan, plastik yang terfragmentasi akan berubah menjadi ukuran lebih kecil. Ukuran lebih kecil ini akan memudahkan bakteri memakan plastik.

Hasil dari fragmentasi ditunjukkan dengan menurunnya berat molekul yang dapat dimakan bakteri. Secara singkat, plastik oxo-biodegradable tersebut akan mengalami perubahan kembali menjadi biomassa.

Perubahan dapat diukur dengan menurunnya berat molekul plastik di bawah 5000 Dalton. Uji kuat tarik dan elongasi (Tensile elongation at break) kurang dari 5% setelah disinari UV dan gel permeation lebih kecil dari 5%.

Fragmentasi dapat dilihat dari uji menggunakan spektroskopi FTIR. Adanya gugus fungsi karbonil C=O dan ester COOH pada plastik oxo-biodegradable menunjukkan telah terjadi fragmentasi.

Dampak Plastik Oxo-Biodegradable

Perlu dipahami bahwa fungsi dari teknologi oxo-biodegradable hanyalah sebatas memecah dan menghancurkan bentuk plastik, bukan menguraikan secara penuh. Bentuk plastik akan mudah terpecah menjadi potongan berukuran mikroskopik. Dengan mendapat bantuan dalam proses penghancuran, maka siklus degradasi bisa dipercepat.

Penggunaan plastik oxo-biodegradable tentu dibuat dengan memiliki manfaat. Dampak positif yang dihasilkan diantaranya adalah membantu mempercepat proses degradasi polimer plastik. Menurut beberapa penelitian disebutkan bahwa oxo-biodegradable mempunyai kecepatan terurai 4-10x lebih cepat dibanding plastik biasa. Siklus penguraian yang semula butuh waktu sampai ribuan tahun bisa direduksi menjadi 5 bulan sampai 9 tahun. Dampak positif yang lain adalah untuk memperkecil volume dan ukuran sampah plastik. Fungsi ini cukup penting mengingat kita banyak menghadapi masalah akibat volume sampah plastik, misal bencana banjir yang disebabkan terganggunya sistem sanitasi kota karena penyumbatan oleh volume plastik.

Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan juga cukup mengkhawatirkan, yaitu terakumulasinya serpihan-serpihan hasil penghancuran plastik, yang masih mempunyai potensi bahaya bagi lingkungan, terutama jika tersuspensi di dalam udara atau air di sekitar kita. Akumulasi monomer plastik juga berpotensi merusak populasi hewan karena mempunyai kemungkinan termakan oleh invertebrata, serangga, ikan, burung, dan hewan lainnya.

Penggunaan teknologi ini masih terdapat pro dan kontra, di satu sisi oxo-biodegradable mampu mempercepat penguraian, namun di sisi lain bisa menimbulkan potensi bahaya yang baru. Terlepas dari dampak positif dan negatif, tujuan utama penggunaan plastik oxo-biodegradable adalah mengurangi pemakaian plastik ya, Kulinas.

Saat ini mungkin memang masih sulit untuk 100% meninggalkan bahan plastik sebagai kemasan dan kantong belanjaan. Namun satu yang perlu ditingkatkan, rasa kesadaran kita untuk berusaha mengurangi penggunaan plastik.

“Plastic aren’t intherently bad. It’s what we do, or don’t do, wise them that count’s.” Sylvia Earle