TIPS KELOLA SAMPAH MAKANAN

Sampah makanan adalah makanan siap konsumsi atau sebenarnya telah memenuhi syarat gizi seimbang namun terbuang begitu saja. Bagaimana sebaiknya kelola sampah makanan agar tidak jadi limbah berbahaya?

Tahukah kamu? Sampah makanan adalah penyumbang sampah terbesar di Indonesia. Keadaan sampah makanan di Indonesia yang terus menumpuk, sebenarnya sudah ada di tahap mengkhawatirkan, lho Kulinas.

FAKTA TENTANG SAMPAH MAKANAN

Harian Kompas baru-baru ini menerbitkan artikel berjudul “Sampah Makanan Indonesia Mencapai Rp 330 Triliun.”

Kompas mengolah data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta Badan Pusat Statistik (BPS) hingga mendapat angka setara Rp 330,71 Triliun sebagai jumlah makanan yang terbuang menjadi sampah dan berasal dari 199 kota dan kabupaten di Indonesia, hanya dalam waktu satu tahun saja.

Menurut penelitian Barilla Center for Food & Nutrition, nilai kehilangan dan kemubaziran pangan Indonesia masuk ke kategori buruk hingga menjadikannya penyumbang sampah makanan terbesar di dunai bersama dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat.

PEMICU MENUMPUKNYA SAMPAH MAKANAN

Sampah makanan bisa berasal dari sisi distribusi hingga sisi konsumsi jaringan makanan kita. Dari sisi distribusi, sampah makanan berasal dari bahan-bahan makanan yang tidak terjual habis di pasar atau bahan-bahan makanan yang sudah expired di supermarket.

Begitu beranjak ke sisi konsumsi, sampah makanan datang dari sisa potongan sayur atau bahan makanan lain yang terbuang – sekaligus sumber terbesarnya datang saat kita tidak menghabiskan makanan. Hayo… siapa di sini yang makannya sering gak habis?

Jika dilihat dari kebiasan individu, berikut beberapa sikap yang membuat makanan biasanya jadi terbuang sia-sia:

  • Tidak menghabiskan makanan.
  • Mengambil makanan melebihi porsi kesanggupan pribadi.
  • Mengambil makanan yang tidak disuka.
  • Memiliki perasaan gengsi ketika menghabiskan makanan di depan banyak orang.

Kalau kita sudah menyadari sikap yang membuat makanan terbuang sia-sia, kita jadi lebih bisa mengendalikan diri agar tidak turut menyumbang sampah makanan yang sudah banyak di Indonesia.

Namun jika memang ada sisa makanan yang harus terbuang, kalian bisa coba kelola sampah makanan tersebut agar lebih bermanfaat dan tidak menimbulkan kerusakan bagi sekitar.

Baca Artikel Serupa: Pesan Makan Bergaransi Hanya di Kulina!

TIPS KELOLA SAMPAH MAKANAN

1. Belanja dengan Bijak

Tips kelola sampah makanan yang pertama, dimulai dari saat kita mempersiapkan makanan dan belanja. Ada baiknya kita membuat daftar belanja yang disesuaikan dengan kondisi bahan makanan di rumah agar jumlah yang terbeli tidak terlalu banyak dan berakhir busuk/kadaluarsa sebelum sempat dikonsumsi.

2. Simpan Makanan dengan Baik

Setelah belanja, simpanlah makanan dengan baik. Misal untuk daging, sayur, dan buah simpan di dalam kulkas. Saat menyimpan di dalam kulkas, kalian juga bisa menambahkan label yang berisi tanggal pembelian dan tanggal kadaluarsa setiap makanan. Dengan keterangan label tanggal seperti ini, kalian jadi tahu makanan mana dulu yang harus segera dihabiskan.

Cara ini dikenal dengan istilah FIFO atau first in first out. Jadi bahan makanan yang pertama dibeli adalah bahan makanan yang pertama diolah. Dengan begini, kamu telah berkonstribusi untuk kurangi dan kelola sampah makanan dengan lebih baik.

3. Simpan Makanan dalam Keadaan Beku

Cara berikutnya untuk kelola sampah makanan adalah menyimpan beberapa jenis makanan tertentu dalam keadaan beku seperti daging dan sayur. Tidak hanya bahan mentah, beberapa masakan matang seperti rendang – juga bisa kalian simpan dalam keadaan beku, lho Kulinas.

Makanan yang sudah dibekukan tentu bisa memperpanjang masa simpan dan masa konsumsinya. Proses pembekuan sama seperti proses pengawetan makanan yang bertujuan agar makanan tidak mudah busuk/rusak.

4. Masak Sesuai Porsi Anggota Keluarga

Saat masak, pastikan gunakan bahan-bahan yang harus segera dihabiskan atau sudah dekat tanggal kadaluarsanya. Masaklah menu yang disukai keluarga agar masakan pasti habis. Pun masak sesuai porsi jumlah anggota keluarga.

Jika masakan yang dimasak saat itu tidak habis, sebaiknya jangan langsung dibuang karena masih bisa kalian simpan di dalam kulkas dan kemudian dihangatkan lagi untuk waktu makan berikutnya.

5. Kelola Sampah Makanan Menjadi Pupuk Kompos

Di rumah, siapkan dua tempat sampah berbeda untuk jenis sampah organik dan non-organik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari produk hayati atau sisa makanan kita – yang mana sampah ini bisa terurai oleh bakteri secara alami.

Sampah organik kemudian bisa kita kelola lagi menjadi pupuk kompos yang berguna bagi kesehatan tanaman kita.

Cara Membuat Pupuk Kompos Sederhana:

Kelola Sampah Makanan Jadi Pupuk Kompos
  • Pisahkan sampah organik sebagai bahan pupuk kompos.
  • Siapkan wadah, EM4 (larutan berisi bakteri untuk mempercepat proses penguraian), gula, dan air.
  • Pertama, larutkan EM4 (sesuai takaran), gula, dan air lalu diamkan selama 24 jam.
  • Setelah 24 jam, campurkan dengan bahan pupuk kompos.
  • Diamkan minimal selama 17 hari.
  • Jika pupuk kompos sudah berubah warna kehitaman, maka pupuk kompos sudah siap untuk digunakan.

Jika kamu merasa membuat pupuk kompos terlalu susah, ada dua alternatif lain untuk kelola sampah makanan rumah kalian:

  • Timbun sampah makanan di dalam tanah pekarangan.
  • Salurkan sampah makanan kepada BSF Farm yang tersebar di sekitar tempat tinggal kalian. BSF Farm adalah tempat budidaya maggot yang mengonsumsi makanan organik dari sampah makanan kita. Maggot itu sendiri kemudian bisa dijadikan bisnis untuk makanan ternak.

Bijak kelola sampah makanan? Kalian pasti bisa!

Ingin kontribusi mengurangi limbah sampah makanan lebih lanjut? Gabung di Kulina Corporate Catering aja. Kulina Corporate Catering memberikan kebebasan karyawan memilih menu makan siang yang disuka, sekaligus hanya mengirimkan makanan sesuai jumlah karyawan yang datang.

Gak ada makanan yang terbuang jadi sampah kan?

BACA TENTANG KULINA CORPORATE CATERING

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *