3 Hidangan Istimewa untuk Raja Kasultanan Yogyakarta

Writter: Dinanda Nisita
Editor: Nona Ica

Daerah Istimewa di Indonesia kini hanya ada 2, salah satunya Yogyakarta atau biasa dikenal dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta terkenal sebagai kota wisata beserta beberapa kuliner unik – yang identik dengan rasa manis. Tidak hanya itu, berbeda dengan daerah lainnya, Yogyakarta dipimpin oleh seorang Raja atau Sultan yang menjabat secara turun temurun sesuai garis keturunan. Tentu saja, ada beberapa hidangan istimewa yang hanya diperuntukkan untuk seorang Sultan.

Tak sembarang orang bisa menyajikan hidangan ke hadapan Sri Sultan. Para abdi dalem khusus yang bekerja di dapur akan menyediakan segala hidangan, kemudian akan dihantarkan oleh abdi dalem lainnya ke meja makan Sri Sultan.  Dengan memegang tradisi penyajian yakni ladosan dhahar dalem, tradisi tiap jaman Kasultanan memiliki caranya masing-masing sesuai selera Sri Sultan.

Bicara soal selera, pernah terbersit gak sih apa hidangan paling disukai para Sultan? Nih, Kulina rangkum beberapa hidangan istimewa yang dihidangkan bagi para Raja Kasultanan Yogyakarta. Mari kuy simak!

1. Selada Huzar

C:\Users\Owner\Downloads\bale-raos-9-1efbb5fd1fa0b01357f12e7b475c2715.jpg

Pada jaman kolonial, saat Belanda masih memegang kekuasaan di Indonesia, sedikit banyak menu makanan dipengaruhi selera ala Barat. Seperti Selada Huzar yang menjadi salah satu menu pembuka yang digemari Sri Sultan HB VIII dengan masa kepemimpinan dari tahun 1921-1939. Gaya masakan kolonial cukup kental karena adanya saus mayonais dan mustard yang menjadi andalan menu ini. Selada Huzar berisi macam-macam isian sayur seperti wortel, kentang, buncis, timun, dan daun selada. Satu lagi yang membuat Selada Huzar makin terkesan gaya kolonialnya adalah sosis sapi dan keju parut sebagai topping.

2. Urip-urip Gulung

C:\Users\Owner\Downloads\nanatimisela_Urip-uripGulung.jpg

Hidangan ini menjadi favorit Sri Sultan HB VII selama masa jabatan beliau. Sekilas mirip dengan Mangut Lele, masakan khas dari selatan Yogyakarta. Namun siapa sangka masakan ala rumahan tersebut juga disajikan ala gourmet? Dengan memisahkan daging Lele dari durinya alias fillet, membuat ikan Lele sejenak naik kelas! Proses memasak daging fillet tersebut adalah dengan cara dipanggang kemudian diberi saus mangut dengan aroma khasnya. Kebayangkan menikmati mangut tanpa jejak duri? Yummy!

3. Manuk Nom

C:\Users\Owner\Downloads\bale-raos-2-3c45e44a96b84e6588f45fe528e6b549.jpg

Pada masa jabatan Sri Sultan HB VII di tahun 1877-1921, puding ini disajikan sebagai makanan penutup. Namun pada masa jabatan Sri Sultan HB VIII di tahun 1921-1939, Manuk Nom disajikan sebagai makanan pembuka. Bila kebanyakan puding akan dikombinasikan dengan buah-buahan, tidak dengan Manuk Nom. Puding dengan isian tape ketan hijau ini, dicampur dengan telur ayam, sehingga kombinasi rasa asam seimbang dengan gurih telur ayam. Rasanya makin nano-nano karena ditambahkan Emping Mlinjo sebagai pelengkap 

Wah unik-unik banget ya ternyata hidangan ala Kasultanan Yogyakarta! Ayo siapa nih yang habis ini pingin cobain?

[CARI TAHU TENTANG KULINA]

SUMBER:
https://jogja.idntimes.com/food/dining-guide/febriana-sintasari/14-menu-makanan-dan-minuman-kesukaan-raja-kratonyogya/full

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *